Di antara sekian banyak kemalasan manusia, ada satu yang paling berbahaya — malas berpikir.
Malas bergerak hanya membuat tubuh lemah, malas bekerja hanya membuat hidup miskin, tapi malas berpikir membuat manusia kehilangan jati dirinya sebagai makhluk berakal.
Padahal, berpikir adalah keistimewaan tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Dengan berpikir, manusia bisa mengenali kebenaran, memahami makna, dan akhirnya menemukan Tuhan.
Namun ketika akal ini enggan digunakan, manusia berjalan dalam gelap — hidupnya penuh kesalahan, dan puncaknya adalah kehancuran.
1. Berpikir Adalah Jalan Menuju Kebenaran
Tidak ada satu pun kebenaran yang dapat ditemukan tanpa berpikir.
Kebenaran, baik yang kecil maupun besar, hanya bisa disingkap oleh akal yang bekerja jernih dan hati yang terbuka.
Mulai dari hal sederhana — seperti menilai mana yang benar dalam ucapan dan perbuatan — hingga kebenaran tertinggi tentang keberadaan Tuhan, semuanya hanya bisa dicapai melalui aktivitas berpikir yang mendalam dan jujur.
Oleh sebab itu, dalam Al-Qur’an berulang kali Tuhan menegur manusia dengan kalimat:
“Afala ta‘qilun?” — Tidakkah kamu berpikir?
Seruan ini bukan sekadar dorongan intelektual, melainkan panggilan spiritual.
Berpikir adalah ibadah akal, jalan bagi ruh menuju cahaya kebenaran.
Barang siapa berpikir dengan jujur, ia sedang menapaki jalan menuju Tuhan.
2. Ketika Manusia Malas Berpikir
Kemalasan berpikir membuat manusia buta terhadap kebenaran.
Ia mudah percaya tanpa memahami, mudah menolak tanpa meneliti, dan mudah ikut tanpa mengerti.
Ia puas dengan warisan keyakinan, tanpa pernah memastikan apakah yang diyakini itu benar.
Padahal, iman yang tidak melalui proses berpikir hanyalah salinan, bukan kesadaran.
Dan kesadaran tidak bisa diwarisi; ia harus ditemukan.
Manusia yang malas berpikir hidupnya bagai daun kering yang diterbangkan angin:
tanpa arah, tanpa pegangan, dan tanpa makna.
Ia berpindah dari satu kesalahan ke kesalahan lain, dari satu kegelapan ke kegelapan berikutnya — sampai akhirnya hilang dalam kebodohan yang dibuatnya sendiri.
3. Puncak dari Tidak Berpikir adalah Kehancuran
Ketika manusia berhenti berpikir, ia berhenti menjadi manusia.
Akal yang dibiarkan mati akan melahirkan kebodohan, kesombongan, dan kezaliman.
Dari sinilah lahir berbagai bentuk kerusakan — baik dalam diri, dalam masyarakat, maupun dalam peradaban.
Bangsa yang enggan berpikir akan punah.
Umat yang malas berpikir akan tertinggal.
Dan individu yang tidak berpikir akan tersesat dalam hidupnya sendiri.
Kebenaran akan digantikan oleh kepentingan, ilmu digantikan oleh opini, dan kebijaksanaan digantikan oleh hawa nafsu.
Itulah puncak kehancuran moral dan spiritual manusia — saat ia membiarkan pikirannya terpenjara oleh kemalasan.
4. Berpikir, Jalan Menuju Kesadaran Ketuhanan
Siapa yang mau berpikir dengan jujur akan sampai pada satu titik yang tak terbantahkan:
bahwa Tuhan itu ada.
Sebab akal yang jernih tak mungkin menolak keteraturan yang sempurna dari alam semesta.
Langit yang terhampar, hukum alam yang presisi, kehidupan yang menakjubkan — semua itu tidak mungkin berdiri tanpa sebab.
Dan sebab itu bukan kebetulan, melainkan Kehendak dan Kekuasaan dari Zat yang Maha Ada.
Inilah buah tertinggi dari berpikir: kesadaran akan keberadaan Tuhan.
Kesadaran yang tidak lahir dari hafalan atau doktrin, tetapi dari penemuan diri yang tulus dan mendalam.
Dan kesadaran semacam ini lebih kokoh dari sekadar pengakuan di bibir — karena ia tumbuh dari kedalaman akal dan hati.
5. Kebenaran Mengantar pada Keselamatan
Manusia yang hidup dalam kebenaran hidupnya akan terarah.
Ia tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa yang harus dihindari, dan tahu kepada siapa ia bergantung.
Kebenaran melahirkan kedamaian, dan kedamaian itu datang karena hidupnya berada di bawah bimbingan Tuhan.
Sebaliknya, siapa yang berpaling dari berpikir dan menolak kebenaran, hidupnya akan selalu diliputi kesalahan.
Ia mungkin tampak bahagia, tapi batinnya kosong.
Ia mungkin kaya, tapi jiwanya miskin.
Dan lambat laun, ia akan sampai pada kehancuran — karena berjalan tanpa cahaya kebenaran.
6. Penutup: Pikir Adalah Cahaya Jiwa
Berpikir adalah cahaya yang menerangi jalan manusia.
Tanpa berpikir, manusia tersesat dalam gelapnya hawa nafsu dan kebodohan.
Namun dengan berpikir, manusia dapat menemukan arah, mengenali dirinya, dan mengenal Tuhannya.
Kemalasan berpikir adalah tirai yang menutup pandangan dari cahaya kebenaran.
Maka bukalah akalmu, renungkanlah hidupmu, dan gunakanlah pikiranmu — sebab setiap langkah menuju kebenaran adalah langkah menuju Tuhan.
Dan di sanalah, manusia akan menemukan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan sejati — hidup di bawah bimbingan Sang Maha Benar.
By: Andik Irawan